Sotthi Hotu, Selamat siang, Selasa, 12 Desember 2017  


Sekat di Antara Manusia

YM. Sri Pannyavaro, Mahathera — Kalau kita menyadari kehidupan ini dan mau dengan jujur melihat masyarakat di sekitar kita, seringkali antara manusia yang satu sulit untuk bergaul dengan manusia yang lain. Apakah yang menjadi penghalang? Pemisah atau penyekat-nya itu memang tidak kasatmata, tidak mampu dideteksi dengan mata, tetapi mampu memisahkan manusia yang satu dengan yang lain.

Apakah "pemisah" itu? Yang kadang-kadang amat jahat dan mungkin amat pekat untuk diterobos, yang mengalahkan persaudaraan, mengalahkan budi baik, hubungan baik, mengalahkan yang lain-lain; sehingga membuat kita sulit untuk bergaul dengan yang lain.

Pemisah atau penyekat itu tidak lain adalah predikat-predikat atau status yang kita punyai. Kalau saya menyebutkan bahwa saya umat beragama A maka saya sudah membuat penyekat dengan umat beragama lain. Saya umat dari agama A dan Anda umat umat beragama B, saya biarawan dan Anda umat awam, saya pimpinan dan Anda karyawan, saya murid dan Anda guru, saya orang mampu dan Anda bawahan saja. Sangat banyak! Kalau kita menuliskan predikat-predikat ini, mungkin lebih tebal dari buku telepon yang kita punyai. Saya ibu, saya ayah, saya anak, saya karyawan, saya majikan, saya pimpinan... sedangkan Anda bukan! Begitu saya menyadari saya umat beragama A, maka saya merasa berbeda dengan umat beragama lain. Begitu saya menyadari bahwa saya adalah biarawan, maka saya menganggap Anda berbeda dengan saya.

Memang predikat-predikat itu diperlukan dalam tata kehidupan bermasyarakat. Tetapi, untuk kepentingan batin kita, untuk pembentukan mental kita yang sehat, kalau suatu saat kita mau menyingkirkan predikat itu untuk sementara, apakah yang kita lihat? Kalau kita mau sesaat menyingkirkan predikat-predikat yang merupakan pagar, yang merupakan penyekat yang dahsyat itu, maka kita akan melihat akar yang sama pada setiap orang.

Apakah itu? Tidak lain bahwa kita semua adalah manusia. Saya adalah manusia, demikian juga Ada; pimpinan kita adalah manusia, Anda pun manusia. Anda yang menjadi pimpinan adalah manusia dan yang Anda pimpin juga manusia seperti Anda.

Kesadaran akan hakikat kita sebagai manusia inilah yang kadang-kadang dibungkus dan masih ditambah lagi dengan sekat berupa bermacam-macam predikat. Kalau kita sudah maju dan sukses, berhasil menjadi pimpinan, mempunyai jabatan tertentu—merasa menjadi atau mempunyai peran tertentu; maka kadang-kadang kita berpikir seolah-olah kita sudah bukan manusia lagi, bahkan mungkin kita memandang yang lain menjadi bukan manusia lagi.

Sumber: Buku "Bersahabat Dengan Kehidupan", karya YM. Sri Pannyavaro, Mahathera; Penerbit Suwung

DIBACA: 11 kali