• (021) 531 6060
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • Everydays 09.00 - 17.00

Y.M. Subhapañño, Mahathera

* Periode2016 - 2021

* Email This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

* DomisiliMahavihāra Buddhamanggala, Balikpapan, Kalimantan Timur


MASA KECIL

Sanghanayaka Sangha Theravada Indonesia periode 2016-2021 yang terpilih pada 15 Juni tahun lalu ini adalah seorang yang jenaka pada masa kecilnya karena memiliki misi cukup unik bagi anak seusianya. Lahir di Banjarnegara pada tanggal 8 Februari 1969 silam, Bhante sejak kecil suka berpergian ke tempat sunyi seperti gunung atau pedesaan untuk merenungkan kehidupan dan berpuasa. Namun bukan berarti beliau seorang yang pendiam pada masa kanak-kanak. Beliau seorang anak gemar berolahraga, menyukai seni budaya, terutama wayang kulit dan budaya Jawa. Salah satu tokoh favorit beliau adalah Wisanggeni, putra Pandawa, manusia setengah dewa yang sakti dan kebaikannya sangat terpuji Tujuannya meluangkan waktu untuk mencari kesunyian pada waktu itu hanya satu, yakni untuk mencari kesaktian.

"Bhante sejak kecil suka berpergian ke tempat sunyi seperti gunung atau pedesaan untuk merenungkan kehidupan dan berpuasa"

Keinginannya tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi keluarganya yang memiliki tradisi Kejawen. Sejak kecil ibunya sering bercerita padanya bahwa almarhum kedua kakeknya adalah seorang yang sakti. Kesaktian mereka diperoleh karena suka menyendiri dan bersemedi. Bahkan keduanya adalah pencetus Kawruh Jawa Naluri didaerahnya, yaitu nilai-nilai Tradisi Jawa yang sebetulnya bila diselidiki mengandung nilai-nilai Buddhisme. Kisah tentang kedua kakeknya ini menginsipirasi bhante untuk mengikuti jejak mereka menjadi seorang yang sakti. Meski demikian beliau tak kunjung memperoleh kesaktian. Jalan beliau untuk menemukan “kesaktian” baru beliau rasakan nampaknya mulai muncul ketika setelah lulus SMP. Saat itu beliau mengenyam Pendidikan Guru Agama (PGA) Buddha di Banyumas.


PERJALANAN MENJADI BHIKKHU

Awalnya beliau tidak terlalu antusias belajar di tempat tersebut. Namun setelah beliau melihat Suhu Acong (dari aliran Mahayana) yang mengajar agama Buddha, beliau melihatnya sebagai seorang yang tenang dan damai, dan juga menggunakan jubah. Terbesit di pikiran beliau, apakah memang dengan mendalami agama Buddha dapat menemukan kesaktian. Beliau akhirnya benar-benar tertarik belajar agama Buddha ketika bertemu dengan Bhante Paññāvaro dan Bhante Jotidhammo (saat ini keduanya Mahathera) dalam sebuah acara Waisak di sebuah vihara di Banyumas. Beliau tertarik dengan karisma kedua Bhikkhu tersebut. Beliau pun berkenalan dengan Bhante Jotidhammo dan sering menemui beliau di kampus tempat Bhante Jotidhammo mengajar. Dan banyak bertanya mengenai agama Buddha dan kehidupan. Bhante adalah seorang yang ingin tahu akan segala hal, selalu penasaran dan berusaha mengejarnya. Karena ingin sakti, segala hal ditanyakan beliau kepada Bhante Jotidhammo mulai dari ketuhanan hingga hal-hal indigo seperti dewa, hantu dan setan.

Bhante Jotidhammo mengajarkan bahwa orang sakti belum tentu suci. Tapi orang suci pastilah sakti. Kesucian merupakan hal yang jauh lebih penting untuk dicapai dibanding kesaktian. Mmperoleh jawaban atas berbagai pertanyaan tentang ketuhanan, kesaktian, karma, siapa ‘diriʼ Sang ʻAkuʼ dan sebagainya membuatnya memahami arti sebuah fenomena hidup. Sejak saat itulah Bhante Subhapañño semakin tekun mendalami agama Buddha. Dan sebagai balas jasa atas kepada Bhante Jotidhammo, beliau selalu bersedia membantu bila diminta. Sampai akhirnya setelah lulus dari PGA, Bhante diminta menjadi dayaka bhikkhu menggantikan dayaka yang lama untuk mengurus segala keperluan termasuk menjadi bendahara pribadi. Bhante menyanggupinya dan kemudian mengikuti Bhante Jotidhammo kemanapun beliau pergi. Saat itu beliau berusia 20 tahun.

"Tak pernah disangka oleh beliau (Bhante Subhapañño)

bahwa di masa depan beliaulah nantinya yang kemudian

diberi amanah menjadi seorang Sanghanayaka"


Y.M. Subhapañño Mahathera saat dilantik sebagai Sanghanayaka

Pernah pada saat beliau bersama Bhante Jotidhammo ke Dhammadipa Arama, beliau mengalami percakapan yang selalu diingatnya. Bhante Jotidhammo mengatakan bahwa Dhammadipa Arama ini adalah vihara STI. Vihara STI ini adalah berarti juga vihara Bhante Paññāvaro Thera, karena beliau adalah Sanghanayaka pada masa itu. Dalam benak Bhante Subhapañño, wah luar biasa sekali sosok seorang Sanghanayaka itu. Memimpin sekian banyak vihara STI diseluruh Indonesia. Termasuk tempat seindah Dhammadipa Arama ini. Tak pernah disangka oleh beliau bahwa di masa depan beliaulah nantinya yang kemudian diberi amanah menjadi seorang Sanghanayaka.

Beliau sempat kuliah D-2 di STAB Mpu Tantular, Banyumas. Setelah lulus, beliau pun mulai menapak jejak kesucian dengan mengikuti pabajja samanera 3 bulan di Vihara Tanah Putih Semarang. Ternyata diluar dugaan, 2 tahun kemudian “bablas menjadi bhikkhu”, demikian menurut beliau. Beliau pun mengikuti upasampada di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya pada 19 Juli 1991 dengan uppajhaya Bhante Sukhemo Thera, kammavacariya Bhante Paññāvaro Thera, dan anusavanacariya Bhante Subalaratano Thera. Dari semula motivasi hidupnya sejak masa kanak-kanak adalah mengejar kesaktian, kini misi hidupnya adalah mengejar kesucian dengan terus melatih diri dan berbuat kebajikan.

MAHAVIHĀRA BUDDHAMANGGALA, BALIKPAPAN

Setelah menjadi bhikkhu, beliau bertugas di Jakarta. Beliau melakukan pembinaan umat mulai dari Jakarta, Tangerang, Cilegon, Serang, dan Rangkasbitung. Dan sejak 1993 menjadi Wakil Kepala Vihara Dhammacakka Jaya dan Sekretaris Yayasan Dhammacakka Jaya. Waktu itu jumlah bhikkhu amat sedikit, sehingga tugas yang ditempuh beliau sebagai bhikkhu baru amatlah tidak mudah. Kisah perjuangan beliau mengejar kesucian tidak berhenti disitu. Pada tahun 1996, beliau diberi tugas untuk menjadi Kepala Vihara Muladharma Samarinda. Pada masa itu, akses jalan menuju vihara cukup sulit dan jalan tidak rata sehingga umat enggan ke vihara pada hari-hari biasa diluar kebaktian. Sehingga seringkali dana makan bhikkhu hanya dikirim melalu kurir, praktis Bhante sering makan sendirian tanpa didampingi umat. Bhante juga bertugas melakukan pembinaan ke Balikpapan, Tarakan, Berau, Tanjung Selor, dan Malinau. Paling sering beliau harus bolak-balik Samarinda-Balikpapan karena keduanya memiliki basis umat Buddha terbesar di Kalimantan pada masa itu. Karena akses jalan masuk vihara cukup sulit, umat jarang ada yang menjemput bhante, dan memilih untuk berdana keperluan transportasi sehingga Bhante sering naik taksi. Pada masa itu sopir-sopir taksi Samarinda dan Balikpapan terkenal suka mengemudi dengan kecepatan tinggi karena mengejar setoran. Praktis sering terjadi kecelakaan di sepanjang jalur yang menghubungkan kedua kota tersebut. Bhante pun sempat beberapa kali hampir mengalami kecelakaan. Beliau merasa bisa jadi usianya mungkin “tidak panjang” kalau terus menerus dalam keadaan seperti ini. “Kesaktian” berkat timbunan karma baiklah yang masih menjaga beliau terhindar dari kecelakaan. Bhante pun memiliki ide untuk merintis cetiya atau vihara kecil di Balikpapan. Seukuran ruko pun tidak apalah, pikir beliau, yang penting ada, sehingga tidak perlu sering bolak-balik Samarinda-Balikpapan.

Visi beliau mulai terwujud pada tahun 1997, ketika salah satu umat meminjami sebuah ruko untuk digunakan sebagai cetiya. Hingga tahun 1999 berkat dukungan dana dari umat, luas area berkembang menjadi 2 hektar. Maka sejak tahun 2000, batu pertama diletakkan dan direncanakan pembangunan Vihara Buddhamanggala. Karena belum ada kuti, Bhante tinggal di bedeng (semacam gubug). Dinding bedeng tersebut berongga-rongga memberi celah angin keluar masuk sehingga bila larut malam saat Bhante tidur hawa amat dingin. Ditambah kondisi saat itu di atas bukit tanpa listrik dan saluran air. Bahkan saat kuti jadi pada tahun 2001 Bhante sempat beberapa saat masih memilih tinggal di bedeng tersebut untuk melatih diri.


Dhammasala Manggalabharana


Candi Buddhamanggala yang menjadi sentral kemegahan kompleks Mahavihara Buddhamanggala


Pada tahun 2002, Dhammasala pertama selesai dibangun (kedepannya digunakan sebagai gedung sekolah minggu remaja). Candi Buddhamanggala mulai dibangun sejak 2003 dan selesai tahun 2008 bersama dengan kuti-kuti tamu. Pada tahun 2011, Dhammasala utama Manggalabharana selesai dibangun bersama dengan gedung perpustakaan Dilanjutkan dengan gedung rumah abu (Wisma Vilasa) yang selesai tahun 2016 kemarin. Sedangkan Dhammasekha Mitamanggala masih dalam tahap penyelesaian. Bhante masih ingat ketika Bhante Sombat dari Thailand datang berkunjung pada tahun 2000, beliau melontarkan lelucon bahwa kata Balikpapan artinya papan dibalik. Bhante Sombat menyindir namun sekaligus mengagumi keserhanaan tempat tinggal Bhante Subhapañño yang hanya berupa bedeng. Ketika beliau kembali berkunjung pada tahun lalu, Bhante Sombat berkata : “hah, disulap ?” Ternyata Bhante Subhapañño memang benar-benar “sakti”. Benar apa yang diajarkan Bhante Jotidhammo pada beliau dahulu, sakti belum tentu suci, tapi suci pasti sakti.

MENEMUKAN KESUCIAN MELALUI PENGABDIAN

Selain kepala Mahavihara Buddhamanggala, beliau saat ini juga sebagai dosen mata kuliah Manajemen Buddhis di STAB Kertarajasa Batu dan dosen pembimbing tugas akhir bagi para mahasiswa/i STAB. Beliau adalah lulusan hukum (S1) Universitas Tridharma Balikpapan (2005) dan manajemen (S2) Universitas Mulawarman Samarinda (2007). Beliau juga Ketua Umum Yayasan Dhammadipa Arama, Malang, periode 2012-sekarang dan sejak 2010-sekarang menjabat sebagai Rektor STAB Kertarajasa.

Demikianlah perjalanan hidup seorang Bhante Subhapañño. Dari semula mengejar kesaktian, akhirnya menemukan kesucian dalam pengabdian beliau sehari-hari sebagai seorang pabbajita dan pendidik. Bagi beliau, kesucian bukan sesuatu yang muluk-muluk untuk dicapai. Pengabdian yang tulus dan penuh cinta kasih akan menghantarkan diri menuju kesucian hidup. Pada tahun 2016, beliau mendapat anugerah Penghargaan Dhamma (Upadhi) dari Srilanka dengan sebutan: Sasana Sobhana Siri Saddhamma Visarada.

Sebagai seorang Sanghanayaka, beliau memiliki visi agar seluruh elemen umat Buddha bisa kompak, tidak saling menyalahkan satu sama lain, serta guyub rukun berkarya dalam Dhamma. Dengan demikian agama Buddha semakin maju dan citra agama Buddha semakin baik di mata umum. Beliau juga senantiasa berharap umat Buddha makin menyelami Dhamma dalam kehidupan sehari-hari, sehingga Sadha (keyakinan) meningkat dan semua berbahagia didalam Dhamma. Semoga kita semua senantiasa mendukung visi beliau dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai umat Buddha. Sadhu 3x....

Pada tahun 2016, beliau mendapat anugerah Penghargaan Dhamma (Upadhi) dari Srilanka dengan sebutan: Sasana Sobhana Siri Saddhamma Visarada


Piagam Saṅgha Theravāda Indonesia

"bhikkhave āmantayāmi vo

vayadhammā saṅkhārā appamādena sampādethāti.

Ayaṃ tathāgatassa pacchimā vācā"

Kini, para Bhikkhu, Kusabdakan pada kalian, segala bentukan sewajarnya mengalami kelapukan, sempurnakanlah tujuan dengan tanpa kelengahan.

Ini adalah sabda Sang Tathāgata yang terakhir.

(Dīghanikāya 16)

Bahwa sesungguhnya Kebenaran Mulia tentang dukkha, sebab munculnya dukkha, lenyapnya dukkha, dan jalan menuju lenyapnya dukkha telah ditemukan dan dibabarkan dengan sempurna oleh Yang Maha Suci Buddha Gotama lebih dari 2500 tahun yang lalu, dan hingga kini tetap terpelihara secara lengkap dan sempurna dalam kitab suci Tipiṭaka Pāli.

Bahwa disamping ajaran suci tersebut, berkat kebijaksanaan luhur Beliau, Yang Maha Sempurna Buddha Gotama telah mendirikan Bhikkhu Saṅgha sebagai wadah bagi setiap insan yang berniat dan bertekad untuk melaksanakan sīla (kemoralan), samādhi (keteguhan batin), dan paññā (kebijaksanaan) secara tekun dan sempurna guna mencapai tujuan terakhir Nibbàna, serta menjadi suri teladan kehidupan suci dan kebersihan batin bagi umat yang masih berkecimpung dalam kehidupan masyarakat ramai.

Bahwa sesungguhnya ajaran suci Buddha Gotama beserta Bhikkhu Saṅgha yang telah Beliau dirikan dan yang telah berurat berakar di bumi persada sejak zaman bahari dan kemudian mekar berkembang bersamaan dengan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia, adalah sejalan dengan cita-cita bangsa Indonesia yang terumus dalam falsafah Pancasila Dasar Negara serta Undang-undang Dasar 1945, untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian, dan keadilan sosial.

Maka, untuk memberikan wadah kelembagaan bagi ajaran suci Buddha Gotama serta para bhikkhu Theravāda warga negara Indonesia dalam melaksanakan cita-cita tersebut di atas, dibentuklah Saṅgha Theravāda Indonesia, dan disusunlah Piagam Saṅgha Theravāda Indonesia yang sesuai kitab suci Tipiṭaka Pāli dengan berazaskan Pancasila sebagai satu-satunya azas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Republik Indonesia.


PASAL I: BENTUK, AZAS, DAN FUNGSI SAṄGHA THERAVĀDA INDONESIA

Saṅgha Theravāda Indonesia merupakan kelanjutan Saṅgha yang didirikan oleh Buddha Gotama lebih dari 2500 tahun yang lalu, merupakan persamuhan para bhikkhu warga negara Indonesia yang telah menjalani upasampadāda (penahbisan menjadi bhikkhu) menurut Dhammavinaya serta melaksanakan Buddhadhamma berdasarkan kitab suci Tipiṭaka Pāli.

Saṅgha Theravāda Indonesia berazaskan Pancasila sebagai satu-satunya azas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Republik Indonesia.

Saṅgha Theravāda Indonesia menghayati dan memelihara ajaran Buddha Gotama yang tercantum dalam kitab suci Tipiṭaka Pāli, serta memberikan pembinaan kepada para bhikkhu Theravāda dalam meningkatkan penghayatan ajaran suci Buddhadhamma, sehingga dapat menjadi bhikkhu yang berbudi luhur dan dapat membina kehidupan mental spiritual umat Buddha Indonesia berdasar pada ajaran suci Buddhadhamma.

Dalam melaksanakan fungsinya seperti tercantum dalam ayat 3 pasal ini, Saṅgha Theravāda Indonesia:

Bekerjasama dalam arti seluas-luasnya dengan seluruh umat Buddha/lembaga-lembaga umat Buddha yang menganut Dhammavinaya menurut kitab suci Tipiṭaka Pāli.

Bekerjasama dalam arti seluas-luasnya dengan semua golongan agama Buddha lainnya di Indonesia atas dasar saling menghormati demi keagungan Buddhadhamma di Indonesia.

Bekerjasama dalam arti seluas-luasnya dengan Pemerintah dan masyarakat luas di Indonesia dalam membina kerukunan kehidupan beragama sesuai dengan dasar falsafah Pancasila dan UUD 1945.

PASAL II: PERATURAN TATA TERTIB SAṄGHA THERAVĀDA INDONESIA

Sebagai kelanjutan dari Saṅgha yang didirikan oleh Buddha Gotama lebih dari 2500 tahun yang lalu, Saṅgha Theravāda Indonesia memiliki Peraturan Tata Tertib yang terdiri dari:

Pātimokkha (tuntunan pelaksanaan Dhamma untuk para bhikkhu di dalam kitab Vinayapiṭaka)

Abhisamācāra (tuntunan pelaksanaan Dhamma serta tatakrama di dalam kitab Vinayapiṭaka)

Peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh Persamuhan Agung Saṅgha Theravāda Indonesia dan Rapat Pimpinan (Rapim) Saṅgha Theravāda Indonesia yang tidak boleh bertentangan dengan atau menyimpang dari Dhammavinaya.

PASAL III: STRUKTUR ORGANISASI SAṄGHA THERAVĀDA INDONESIA

Saṅgha Theravāda Indonesia mempunyai Persamuhan Agung (Mahāsaṅghasabhā), Dewan Sesepuh (Therasamāgama), Dewan Pimpinan (Kārakasaṅghasabhā), dan Dewan Kehormatan (Adhikaraṇasabhā)

Persamuhan Agung (Mahāsaṅghasabhā) merupakan organ lembaga kedaulatan tertinggi Saṅgha Theravāda Indonesia, yang dipimpin Kepala Saṅgha (Saṅghapāmokha) dan Wakil Kepala Saṅgha (Upa-Saṅghapāmokha)

Dewan Sesepuh (Therasamāgama) merupakan organ lembaga pertimbangan agung Saṅgha Theravāda Indonesia, yang dipimpin Ketua Dewan Sesepuh (Theranāyaka) dan Wakil Ketua Dewan Sesepuh (Upa-Theranāyaka)

Dewan Pimpinan (Kārakasaṅghasabhā) merupakan organ lembaga pimpinan manajerial dan operasional tinggi Saṅgha Theravāda Indonesia, yang dipimpin Ketua Umum (Saṅghanāyaka) dan Ketua-ketua (Upa-Saṅghanāyaka)

Dewan Kehormatan (Adhikaraṇasabhā) merupakan lembaga peradilan tinggi organisasi dan Dhammavinaya, yang dipimpin Ketua (Adhikaraṇasabhā) dan Wakil Ketua (Upa-adhikaraṇasabhā)

Masa bakti Kepala Saṅgha (Saṅghapvāmokha) dan Wakil Kepala Saṅgha (Upa-Saṅghapāmokha) adalah 5 (lima) tahun, dan dapat dipilih kembali

Masa bakti Ketua/Wakil Ketua Dewan Sesepuh (Theranāyaka/Upa-Theranvāyaka), Ketua Umum/Ketua-ketua Dewan Pimpinan (Saṅghanāyaka/ Upa-Saṅghanāyaka), dan Ketua/Wakil Ketua Dewan Kehormatan (Adhikaraṇasabhā/Upa-adhikaraṇasabhā) adalah 5 (lima) tahun, dapat dipilih dua kali berturut-turut, dan setelah sekurang-kurangnya satu periode berlalu dapat dipilih kembali

Persamuhan Agung (Mahāsaṅghasabhā) Saṅgha Theravāda Indonesia terdiri dari para bhikkhu anggota Saṅgha Theravāda Indonesia yang telah mendapat nissayamuttaka dan telah menjadi anggota Saṅgha Theravāda Indonesia sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun

Persamuhan Agung (Mahāsaṅghasabhā) Saṅgha Theravāda Indonesia diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam satu tahun, dan mengambil keputusan- keputusan yang mengutamakan musyawarah mufakat, yang tidak boleh bertentangan atau menyimpang dari Dhammavinaya menurut kitab suci Tipiṭaka Pāli.

PASAL IV: KEWAJIBAN BHIKKHU SAṄGHA THERAVĀDA INDONESIA

Mendalami Buddhadhamma sesuai dengan kitab suci Tipiṭaka Pāli

Melatih diri dalam pelaksanaan Vinaya yang diwariskan oleh Buddha Gotama, menaati keputusan-keputusan Persamuhan Agung Saṅgha Theravāda Indonesia dan keputusan-keputusan Rapat Pimpinan Saṅgha Theravāda Indonesia, serta peraturan-peraturan vihāra di mana ia menetap sejauh tidak bertentangan dengan Vinaya kebhikkhuan

Melatih diri dalam pengembangan batin (bhāvana) sesuai dengan kitab suci Tipiṭaka Pāli

Menjadi tumpuan keyakinan (saddhā) dan bakti umat Buddha, serta menjadi teladan yang baik sebagai bhikkhu yang pantas menerima persembahan dari masyarakat

Menambah pengetahuan lain yang memiliki kaitan dengan Dhamma atau pembabaran Dhamma

Sesuai dengan kemampuan dan pengetahuannya mengajarkan Dhamma demi ketentraman dan kebahagiaan banyak orang

Membina dan memelihara kehidupan vihāra sebagai tempat tinggal para bhikkhu yang nyaman untuk pelaksanaan Dhammavinaya, tempat kegiatan keagamaan, tempat berkumpul umat setempat untuk melakukan kegiatan pendidikan, kegiatan kepustakaan, dan sebagainya

Memberi tuntunan kepada umat Buddha di tempat ia berdiam untuk berusaha mencapai kesejahteraan serta mendorong mereka untuk aktif dalam pembangunan bangsa dan negara Republik Indonesia

Memberi anjuran dan tuntunan kepada masyarakat untuk memelihara warisan budaya nasional yang bernuansa Buddhis, seperti: candi-candi, bangunan bersejarah, benda-benda kesenian, kesusasteraan, dan sebagainya.

PASAL V: PENUTUP

Perubahan-perubahan terhadap ketentuan-ketentuan dalam Piagam ini hanya dapat dilakukan oleh Persamuhan Agung Saṅgha Theravāda Indonesia secara saksama dan tidak bertentangan atau menyimpang dari Dhammavinaya menurut kitab suci Tipiṭaka Pāli.

Arti Lambang

Stupa melambangkan Nibbāna (Kebebasan) yang merupakan dasar utama dari seluruh rasa Dhamma yang diajarkan oleh Guru Agung Buddha Gotama dan menjadi tujuan setiap umat Buddha.

Stupa yang menjadi lambang Saṅgha Theravāda Indonesia ini diambil dari stupa induk di puncak Candi Borobudur.


Logo Saṅgha Theravāda Indonesia

Dhammacakka (Roda Dhamma) dengan jari-jari delapan di tengah-tengah stupa melambangkan Ariya Atthangika Magga (Jalan Ariya Berunsur Delapan) yang merupakan Jalan untuk mencapai Kebebasan.

Empat lingkaran di tengah-tengah Roda Dhamma melambangkan Empat Tingkat Kesucian dalam menuju Pencapaian Kebebasan: Sotāpatti, Sakadāgāmī, Anāgāmī, Arahat.


Saṅgha Theravāda Indonesia

Lintasan 40 Tahun

Terbentuknya Saṅgha Theravāda Indonesia

23 Oktober 1976, bertempat di Vihāra Maha Dhammaloka (sekarang Vihāra Tanah Putih), Semarang, Bhikkhu Aggabalo, Bhikkhu Khemasaraṇo, Bhikkhu Sudhammo, Bhikkhu Khemiyo, dan Bhikkhu Nyāṅavutto serta tokoh umat Bapak Drs. Suriyaputta K. S. Suratin, Bapak Drs. S. Mohtar Rashid, dan Ibu R. S. Prawirokoesoemo berkumpul dan membicarakan hal yang penting ini.

PADA MULANYA

Hingga pertengahan tahun 1970-an umat Buddha di Indonesia terdiri dari banyak organisasi. Pada masa itu ada beberapa organisasi umat Buddha yang aktif di bidang pembinaan keagamaan berada di luar binaan Saṅgha (yang ada waktu itu).

Organisasi umat Buddha itu antara lain: Tridharma, Buddhis Indonesia, Persaudaraan Buddhis Indonesia, Federasi Buddhis Indonesia; juga terdapat banyak umat Buddha yang pada awalnya bergabung dengan organisasi umat Buddha yang telah ada, tapi kemudian keluar dari organisasi itu karena merasa tidak sejalan.

"Para pimpinan organisasi umat Buddha ini

sangat mendambakan agar

umat Buddha anggota mereka

mendapat pembinaan dari Saṅgha"

namun karena perbedaan organisasi (karena bukan organisasi yang dibina langsung oleh Saṅgha) maka keinginan tersebut tidak terpenuhi. Keinginan mereka di antaranya adalah mendapatkan khotbah, ceramah, penahbisan pandita, penahbisan upasaka dan upasika, pemberkahan-pemberkahan perkawinan, rumah, kantor, dan sebagainya.

Di samping itu ada beberapa anggota dari Saṅgha yang ada pada waktu itu yang melihat bahwa banyak hal yang mulai tidak sesuai dengan pemikiran mereka, terutama dalam kebijakan pembinaan umat Buddha di Indonesia dan cara kepemimpinan. Menurut mereka pimpinan Saṅgha tidak terbuka, sudah beberapa tahun tidak ada rapat umum (mahāsamaya), padahal mahāsamaya seharusnya dilaksanakan setiap tahun.

Sementara itu ada beberapa bhikkhu muda yang baru beberapa tahun menerima upasampadā di luar negeri dan telah berada di tanah air; juga ada beberapa bhikkhu yang menerima upasampadā di Indonesia, yang bukan anggota (organisasi) Saṅgha yang telah ada di Indonesia. Dalam pembinaan umat Buddha selama beberapa tahun, mereka telah melihat, mendengar, dan menemukan kondisi umat Buddha yang tidak mendapat pembinaan dari organisasi Saṅgha yang ada pada saat itu, begitu pula dengan informasi-informasi dari anggota Saṅgha yang tidak sejalan dengan kebijakan organisasi dan pimpinan Saṅgha. Di samping itu para bhikkhu baru ini dituntut oleh umat untuk mematuhi dan melaksanakan vinaya kebhikkhuan sesuai dengan paṭimokkha yang tercantum dalam Tipiṭaka.

TERBENTUKNYA SAṄGHA THERAVĀDA INDONESIA

Berdasarkan situasi dan kondisi umat Buddha di Indonesia seperti itulah, maka pada sore hari tanggal 23 Oktober 1976, bertempat di Vihāra Mahā Dhammaloka (sekarang Vihāra Tanah Putih), Semarang, beberapa bhikkhu dengan disaksikan tokoh umat, yaitu: Bhikkhu Aggabalo, Bhikkhu Khemasaraṇo, Bhikkhu Sudhammo, Bhikkhu Khemiyo, dan Bhikkhu Nyāṅavutto; Bapak Drs. Suriyaputta K. S. Suratin, Bapak Drs. S. Mohtar Rashid, dan Ibu R. S. Prawirokoesoemo berkumpul dan membicarakan hal yang penting ini.


Pendiri STI (kiri-kanan): Bhikkhu Khemiyo, Bhikkhu Aggabalo, Bhikkhu Sudhammo, Bhikkhu Khemasaraṇo, dan Bhikkhu Nyāṅavutto

Pada saat itulah muncul pertanyaan apakah para bhikkhu tega membiarkan umat-umat yang tidak dibina? Padahal sesuai dengan amanat Sang Buddha kepada para bhikkhu yang dikirim sebagai Dhammaduta pertama (yaitu 60 Bhikkhu Arahat, lihat Vinaya Pitaka 1. 21) ke berbagai penjuru adalah untuk membabarkan Dhamma! Juga banyak pertanyaan tentang permasalahan kehidupan beragama Buddha di Indonesia yang harus diselesaikan dengan kerjasama Saṅgha dan umat. Demi memenuhi kehendak umat dan tanggung jawab moral, tercetuslah dalam diskusi itu ide untuk membentuk Saṅgha baru yang sesuai dengan Dhamma dan Vinaya.

Pembentukan Saṅgha ini dilandasi berbagai pertimbangan, antara lain bukan dibentuk untuk menyaingi Saṅgha yang sudah ada, namun hanya untuk kepentingan bersama para bhikkhu dan untuk memfasilitasi kebutuhan umat dalam hal pembinaan. Empat dari lima bhikkhu yang akan membentuk Saṅgha baru ini bukanlah anggota Saṅgha yang telah ada. Hanya Bhante Khemasaraṇo yang telah menjadi anggota Saṅgha yang ada saat itu, tetapi dalam pertemuan ini beliau menyatakan akan keluar dari Saṅgha tersebut dan bergabung dengan Saṅgha yang akan dibentuk.

Syarat jumlah bhikkhu yang disebut Saṅgha menurut Tipiṭaka minimal harus ada empat bhikkhu. Dengan demikian kuorum membentuk Saṅgha dapat dipenuhi oleh empat bhikkhu yang telah hadir dan bukan anggota Saṅgha yang telah ada di Indonesia. Maka dalam pertemuan itu empat bhikkhu ini sependapat untuk membentuk Saṅgha baru, dan Bhante Khemasaraṇo menyetujuinya dengan menyatakan sekaligus keluar dari Saṅgha terdahulu dan bergabung dengan Saṅgha yang dibentuk saat itu. Dengan demikian terbentuklah Saṅgha yang dinamakan Saṅgha Theravāda Indonesia oleh lima orang bhikkhu tersebut, yaitu: Bhikkhu Aggabalo, Bhikkhu Khemasaraṇo, Bhikkhu Sudhammo, Bhikkhu Khemiyo, dan Bhikkhu Nyanavuttho. Ikut menyaksikan peristiwa bersejarah itu 2 Dhammaduta Thailand: Bhante Suvirayan (sekarang Phra Dhamchetiyachan) dan Bhante Sombat Pavitto (sekarang Phra Vidhurdhammabhorn).

Pembentukan Saṅgha Theravāda Indonesia ini disambut baik oleh tokoh-tokoh umat yang hadir dan yang tidak hadir, sebab setelah Saṅgha Theravāda Indonesia dibentuk, langsung diinformasikan ke berbagai organisasi dan tokoh-tokoh umat Buddha di seluruh Indonesia dan ditanggapi positif.

Setelah terbentuk, Saṅgha Theravāda Indonesia langsung menyelenggarakan rapat Saṅgha dan memutuskan bahwa Saṅgha Theravāda Indonesia akan dipimpin oleh seorang Sekretaris Jenderal (Mahā Lekkhanādikari) dan bukan oleh Ketua (Nāyaka). Hal ini didasari pertimbangan bahwa semua anggota Saṅgha Theravāda Indonesia merupakan para bhikkhu muda dan baru terdiri dari lima bhikkhu yang kepengurusannya masih muda. Tugas utama ke luar adalah melaksanakan pembinaan umat Buddha di mana saja anggota berada dan atas permintaan umat (hal ini untuk mencegah friksi yang dapat muncul di antara Saṅgha dan organisasi umat Buddha lain). Namun sebagai Dhammaduta, bhikkhu harus melayani siapa saja yang mengundang, demi pembabaran Buddha Dhamma.

Beberapa hari kemudian, Bhante Aggabalo dan Sāmanera Tejavanto (kemudian menjadi Bhikkhu Paññāvaro) menemui Bhante Girirakkhito Thera di Jakarta untuk menyampaikan telah berdirinya Saṅgha Theravāda Indonesia. Setelah informasi ini disampaikan, beliau berkata: Baiklah, karena teman-teman telah mendirikan Saṅgha Theravāda Indonesia, saya bergabung.€ Setelah pertemuan dengan Bhante Girirakkhito, maka Bhante Aggabalo, Bhante Girirakkhito, dan Sāmanera Tejavanto langsung menghadap Dirjen Bimas Hindu dan Buddha saat itu, Bapak Gde Puja, M.A. dan Sekditjen Bapak drg. Willy Prajnasurya di Departemen Agama. Dirjen menerima dan mengakui keberadaan Saṅgha Theravāda Indonesia. Dengan demikian absahlah keberadaan Saṅgha Theravāda Indonesia di Indonesia karena telah diterima baik oleh umat dan pemerintah.

Untuk menghargai jasa besar Bapak Corneles Wowor (Bhikkhu Aggabalo) ini, Saṅgha Theravāda Indonesia menganugerahkan Gelar Penghargaan Ādisāsana Visārada, yang diberikan kepada beliau bertempat di Pusdiklat Buddhis Sikkhādama Santibhumi pada tahun 2012.

Saṅgha membangun Candi Khemasaraṇo di Juana untuk menyimpan abu jenazah Bhante Khemasaraṇo Mahāthera. Demikian juga telah dibangun candi di Lasem untuk mengenang Mendiang Bhante Sudhammo Mahāthera.

Bapak Drs. Suriyaputta K. S. Suratin merancang logo Saṅgha Theravāda Indonesia berupa stupa Candi Borobudur dan diajukan kepada Sekjen Saṅgha saat itu, Bhante Aggabalo. Bhante Aggabalo menerima dengan baik dan logo itu digunakan sampai saat ini.

Perjalanan Saṅgha Theravāda Indonesia di tahun-tahun awal tidaklah mudah. Anggota Saṅgha perlu mengingat benar tujuan kebhikkhuan, tetap berpegang teguh pada Dhamma dan Vinaya, sesuai Kitab Suci Tipiṭaka Pali. Dengan berpegang pada prinsip ini, para bhikkhu anggota Saṅgha Theravāda Indonesia memberikan bimbingan Dhamma kepada umat Buddha. Inilah modal yang paling berharga dalam perjalanan Saṅgha hingga mencapai usia 40 tahun kini.


© 2020 Sańgha Theravāda Indonesia. All Rights Reserved.