Sotthi Hotu, Selamat siang, Selasa, 12 Desember 2017  


Piagam Saṅgha Theravāda Indonesia

“Handadāni bhikkhave āmantayāmi vo,
vayadhammā saṅkhārā appamādena sampādethā’ti.
Ayaṁ Tathāgatassa pacchimā vācā"

“Kini, para Bhikkhu, Kusabdakan pada kalian, segala bentukan sewajarnya mengalami kelapukan, sempurnakanlah tujuan dengan tanpa kelengahan.
Ini adalah sabda Sang Tathāgata yang terakhir.”
(Dīghanikāya 16)




Bahwa sesungguhnya Kebenaran Mulia tentang dukkha, sebab munculnya dukkha, lenyapnya dukkha, dan jalan menuju lenyapnya dukkha telah ditemukan dan dibabarkan dengan sempurna oleh Yang Maha Suci Buddha Gotama lebih dari 2500 tahun yang lalu, dan hingga kini tetap terpelihara secara lengkap dan sempurna dalam kitab suci Tipiṭaka Pāli.

Bahwa disamping ajaran suci tersebut, berkat kebijaksanaan luhur Beliau, Yang Maha Sempurna Buddha Gotama telah mendirikan Bhikkhu Saṅgha sebagai wadah bagi setiap insan yang berniat dan bertekad untuk melaksanakan sīla (kemoralan), samādhi (keteguhan batin), dan paññā (kebijaksanaan) secara tekun dan sempurna guna mencapai tujuan terakhir Nibbàna, serta menjadi suri teladan kehidupan suci dan kebersihan batin bagi umat yang masih berkecimpung dalam kehidupan masyarakat ramai.

Bahwa sesungguhnya ajaran suci Buddha Gotama beserta Bhikkhu Saṅgha yang telah Beliau dirikan dan yang telah berurat berakar di bumi persada sejak zaman bahari dan kemudian mekar berkembang bersamaan dengan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia, adalah sejalan dengan cita-cita bangsa Indonesia yang terumus dalam falsafah Pancasila Dasar Negara serta Undang-undang Dasar 1945, untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian, dan keadilan sosial.

Maka, untuk memberikan wadah kelembagaan bagi ajaran suci Buddha Gotama serta para bhikkhu Theravāda warga negara Indonesia dalam melaksanakan cita-cita tersebut di atas, dibentuklah Saṅgha Theravāda Indonesia, dan disusunlah Piagam Saṅgha Theravāda Indonesia yang sesuai kitab suci Tipiṭaka Pāli dengan berazaskan Pancasila sebagai satu-satunya azas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Republik Indonesia.


Pasal I: Bentuk, Azas, dan Fungsi SaṄgha TheravĀda Indonesia
  1. Saṅgha Theravāda Indonesia merupakan kelanjutan Saṅgha yang didirikan oleh Buddha Gotama lebih dari 2500 tahun yang lalu, merupakan persamuhan para bhikkhu warga negara Indonesia yang telah menjalani upasampadāda (penahbisan menjadi bhikkhu) menurut Dhammavinaya serta melaksanakan Buddhadhamma berdasarkan kitab suci Tipiṭaka Pāli.
  2. Saṅgha Theravāda Indonesia berazaskan Pancasila sebagai satu-satunya azas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Republik Indonesia.
  3. Saṅgha Theravāda Indonesia menghayati dan memelihara ajaran Buddha Gotama yang tercantum dalam kitab suci Tipiṭaka Pāli, serta memberikan pembinaan kepada para bhikkhu Theravāda dalam meningkatkan penghayatan ajaran suci Buddhadhamma, sehingga dapat menjadi bhikkhu yang berbudi luhur dan dapat membina kehidupan mental spiritual umat Buddha Indonesia berdasar pada ajaran suci Buddhadhamma.
  4. Dalam melaksanakan fungsinya seperti tercantum dalam ayat 3 pasal ini, Saṅgha Theravāda Indonesia:
    1. Bekerjasama dalam arti seluas-luasnya dengan seluruh umat Buddha/lembaga-lembaga umat Buddha yang menganut Dhammavinaya menurut kitab suci Tipiṭaka Pāli.
    2. Bekerjasama dalam arti seluas-luasnya dengan semua golongan agama Buddha lainnya di Indonesia atas dasar saling menghormati demi keagungan Buddhadhamma di Indonesia.
    3. Bekerjasama dalam arti seluas-luasnya dengan Pemerintah dan masyarakat luas di Indonesia dalam membina kerukunan kehidupan beragama sesuai dengan dasar falsafah Pancasila dan UUD 1945.
Pasal II: Peraturan Tata Tertib Saṅgha Theravāda Indonesia

Sebagai kelanjutan dari Saṅgha yang didirikan oleh Buddha Gotama lebih dari 2500 tahun yang lalu, Saṅgha Theravāda Indonesia memiliki Peraturan Tata Tertib yang terdiri dari:

  1. Pātimokkha (tuntunan pelaksanaan Dhamma untuk para bhikkhu di dalam kitab Vinayapiṭaka)
  2. Abhisamācāra (tuntunan pelaksanaan Dhamma serta tatakrama di dalam kitab Vinayapiṭaka)
  3. Peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh Persamuhan Agung Saṅgha Theravāda Indonesia dan Rapat Pimpinan (Rapim) Saṅgha Theravāda Indonesia yang tidak boleh bertentangan dengan atau menyimpang dari Dhammavinaya
Pasal III: Struktur Organisasi SaṄgha Theravāda Indonesia
  1. Saṅgha Theravāda Indonesia mempunyai Persamuhan Agung (Mahāsaṅghasabhā), Dewan Sesepuh (Therasamāgama), Dewan Pimpinan (Kārakasaṅghasabhā), dan Dewan Kehormatan (Adhikaraṇasabhā)
  2. Persamuhan Agung (Mahāsaṅghasabhā) merupakan organ lembaga kedaulatan tertinggi Saṅgha Theravāda Indonesia, yang dipimpin Kepala Saṅgha (Saṅghapāmokha) dan Wakil Kepala Saṅgha (Upa-Saṅghapāmokha)
  3. Dewan Sesepuh (Therasamāgama) merupakan organ lembaga pertimbangan agung Saṅgha Theravāda Indonesia, yang dipimpin Ketua Dewan Sesepuh (Theranāyaka) dan Wakil Ketua Dewan Sesepuh (Upa-Theranāyaka)
  4. Dewan Pimpinan (Kārakasaṅghasabhā) merupakan organ lembaga pimpinan manajerial dan operasional tinggi Saṅgha Theravāda Indonesia, yang dipimpin Ketua Umum (Saṅghanāyaka) dan Ketua-ketua (Upa-Saṅghanāyaka)
  5. Dewan Kehormatan (Adhikaraṇasabhā) merupakan lembaga peradilan tinggi organisasi dan Dhammavinaya, yang dipimpin Ketua (Adhikaraṇasabhā) dan Wakil Ketua (Upa-adhikaraṇasabhā)
  6. Masa bakti Kepala Saṅgha (Saṅghapvāmokha) dan Wakil Kepala Saṅgha (Upa-Saṅghapāmokha) adalah 5 (lima) tahun, dan dapat dipilih kembali
  7. Masa bakti Ketua/Wakil Ketua Dewan Sesepuh (Theranāyaka/Upa-Theranvāyaka), Ketua Umum/Ketua-ketua Dewan Pimpinan (Saṅghanāyaka/ Upa-Saṅghanāyaka), dan Ketua/Wakil Ketua Dewan Kehormatan (Adhikaraṇasabhā/Upa-adhikaraṇasabhā) adalah 5 (lima) tahun, dapat dipilih dua kali berturut-turut, dan setelah sekurang-kurangnya satu periode berlalu dapat dipilih kembali
  8. Persamuhan Agung (Mahāsaṅghasabhā) Saṅgha Theravāda Indonesia terdiri dari para bhikkhu anggota Saṅgha Theravāda Indonesia yang telah mendapat nissayamuttaka dan telah menjadi anggota Saṅgha Theravāda Indonesia sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun
  9. Persamuhan Agung (Mahāsaṅghasabhā) Saṅgha Theravāda Indonesia diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam satu tahun, dan mengambil keputusan- keputusan yang mengutamakan musyawarah mufakat, yang tidak boleh bertentangan atau menyimpang dari Dhammavinaya menurut kitab suci Tipiṭaka Pāli
Pasal IV: Kewajiban Bhikkhu SaṄgha Theravāda Indonesia
  1. Mendalami Buddhadhamma sesuai dengan kitab suci Tipiṭaka Pāli
  2. Melatih diri dalam pelaksanaan Vinaya yang diwariskan oleh Buddha Gotama, menaati keputusan-keputusan Persamuhan Agung Saṅgha Theravāda Indonesia dan keputusan-keputusan Rapat Pimpinan Saṅgha Theravāda Indonesia, serta peraturan-peraturan vihāra di mana ia menetap sejauh tidak bertentangan dengan Vinaya kebhikkhuan
  3. Melatih diri dalam pengembangan batin (bhāvana) sesuai dengan kitab suci Tipiṭaka Pāli
  4. Menjadi tumpuan keyakinan (saddhā) dan bakti umat Buddha, serta menjadi teladan yang baik sebagai bhikkhu yang pantas menerima persembahan dari masyarakat
  5. Menambah pengetahuan lain yang memiliki kaitan dengan Dhamma atau pembabaran Dhamma
  6. Sesuai dengan kemampuan dan pengetahuannya mengajarkan Dhamma demi ketentraman dan kebahagiaan banyak orang
  7. Membina dan memelihara kehidupan vihāra sebagai tempat tinggal para bhikkhu yang nyaman untuk pelaksanaan Dhammavinaya, tempat kegiatan keagamaan, tempat berkumpul umat setempat untuk melakukan kegiatan pendidikan, kegiatan kepustakaan, dan sebagainya
  8. Memberi tuntunan kepada umat Buddha di tempat ia berdiam untuk berusaha mencapai kesejahteraan serta mendorong mereka untuk aktif dalam pembangunan bangsa dan negara Republik Indonesia
  9. Memberi anjuran dan tuntunan kepada masyarakat untuk memelihara warisan budaya nasional yang bernuansa Buddhis, seperti: candi-candi, bangunan bersejarah, benda-benda kesenian, kesusasteraan, dan sebagainya
Pasal V: Penutup

Perubahan-perubahan terhadap ketentuan-ketentuan dalam Piagam ini hanya dapat dilakukan oleh Persamuhan Agung Saṅgha Theravāda Indonesia secara saksama dan tidak bertentangan atau menyimpang dari Dhammavinaya menurut kitab suci Tipiṭaka Pāli.


Arti Lambang


Stupa melambangkan Nibbāna (Kebebasan) yang merupakan dasar utama dari seluruh rasa Dhamma yang diajarkan oleh Guru Agung Buddha Gotama dan menjadi tujuan setiap umat Buddha.

Stupa yang menjadi lambang Saṅgha Theravāda Indonesia ini diambil dari stupa induk di puncak Candi Borobudur.

Logo Saṅgha Theravāda Indonesia


Dhammacakka (Roda Dhamma) dengan jari-jari delapan di tengah-tengah stupa melambangkan Ariya Atthangika Magga (Jalan Ariya Berunsur Delapan) yang merupakan Jalan untuk mencapai Kebebasan.

Empat lingkaran di tengah-tengah Roda Dhamma melambangkan Empat Tingkat Kesucian dalam menuju Pencapaian Kebebasan: Sotāpatti, Sakadāgāmī, Anāgāmī, Arahat.


Baca Pula