Sotthi Hotu, Selamat siang, Selasa, 12 Desember 2017  


⁓ Profil Ketua Umum (Sanghanayaka)

Y.M. Subhapanno, Mahathera

*   Periode
2016 - 2021
*   Email
*   Domisili




Masa Kecil

Sanghanayaka Sangha Theravada Indonesia periode 2016-2021 yang terpilih pada 15 Juni tahun lalu ini adalah seorang yang jenaka pada masa kecilnya karena memiliki misi cukup unik bagi anak seusianya. Lahir di Banjarnegara pada tanggal 8 Februari 1969 silam, Bhante sejak kecil suka berpergian ke tempat sunyi seperti gunung atau pedesaan untuk merenungkan kehidupan dan berpuasa. Namun bukan berarti beliau seorang yang pendiam pada masa kanak-kanak. Beliau seorang anak gemar berolahraga, menyukai seni budaya, terutama wayang kulit dan budaya Jawa. Salah satu tokoh favorit beliau adalah Wisanggeni, putra Pandawa, manusia setengah dewa yang sakti dan kebaikannya sangat terpuji Tujuannya meluangkan waktu untuk mencari kesunyian pada waktu itu hanya satu, yakni untuk mencari kesaktian.

Bhante sejak kecil suka berpergian ke tempat sunyi seperti gunung atau pedesaan untuk merenungkan kehidupan dan berpuasa

Keinginannya tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi keluarganya yang memiliki tradisi Kejawen. Sejak kecil ibunya sering bercerita padanya bahwa almarhum kedua kakeknya adalah seorang yang sakti. Kesaktian mereka diperoleh karena suka menyendiri dan bersemedi. Bahkan keduanya adalah pencetus Kawruh Jawa Naluri didaerahnya, yaitu nilai-nilai Tradisi Jawa yang sebetulnya bila diselidiki mengandung nilai-nilai Buddhisme. Kisah tentang kedua kakeknya ini menginsipirasi bhante untuk mengikuti jejak mereka menjadi seorang yang sakti. Meski demikian beliau tak kunjung memperoleh kesaktian. Jalan beliau untuk menemukan “kesaktian” baru beliau rasakan nampaknya mulai muncul ketika setelah lulus SMP. Saat itu beliau mengenyam Pendidikan Guru Agama (PGA) Buddha di Banyumas.


PERJALANAN MENJADI BHIKKHU

BAwalnya beliau tidak terlalu antusias belajar di tempat tersebut. Namun setelah beliau melihat Suhu Acong (dari aliran Mahayana) yang mengajar agama Buddha, beliau melihatnya sebagai seorang yang tenang dan damai, dan juga menggunakan jubah. Terbesit di pikiran beliau, apakah memang dengan mendalami agama Buddha dapat menemukan kesaktian. Beliau akhirnya benar-benar tertarik belajar agama Buddha ketika bertemu dengan Bhante Paññāvaro dan Bhante Jotidhammo (saat ini keduanya Mahathera) dalam sebuah acara Waisak di sebuah vihara di Banyumas. Beliau tertarik dengan karisma kedua Bhikkhu tersebut. Beliau pun berkenalan dengan Bhante Jotidhammo dan sering menemui beliau di kampus tempat Bhante Jotidhammo mengajar. Dan banyak bertanya mengenai agama Buddha dan kehidupan. Bhante adalah seorang yang ingin tahu akan segala hal, selalu penasaran dan berusaha mengejarnya. Karena ingin sakti, segala hal ditanyakan beliau kepada Bhante Jotidhammo mulai dari ketuhanan hingga hal-hal indigo seperti dewa, hantu dan setan.


Bhante Jotidhammo mengajarkan bahwa orang sakti belum tentu suci. Tapi orang suci pastilah sakti. Kesucian merupakan hal yang jauh lebih penting untuk dicapai dibanding kesaktian. Mmperoleh jawaban atas berbagai pertanyaan tentang ketuhanan, kesaktian, karma, siapa ‘diriʼ Sang ʻAkuʼ dan sebagainya membuatnya memahami arti sebuah fenomena hidup. Sejak saat itulah Bhante Subhapanno semakin tekun mendalami agama Buddha. Dan sebagai balas jasa atas kepada Bhante Jotidhammo, beliau selalu bersedia membantu bila diminta. Sampai akhirnya setelah lulus dari PGA, Bhante diminta menjadi dayaka bhikkhu menggantikan dayaka yang lama untuk mengurus segala keperluan termasuk menjadi bendahara pribadi. Bhante menyanggupinya dan kemudian mengikuti Bhante Jotidhammo kemanapun beliau pergi. Saat itu beliau berusia 20 tahun.

Tak pernah disangka oleh beliau (Bhante Subhapanno) bahwa di masa depan beliaulah nantinya yang kemudian diberi amanah menjadi seorang Sanghanayaka


Y.M. Subhapanno Mahathera saat dilantik sebagai Sanghanayaka

Pernah pada saat beliau bersama Bhante Jotidhammo ke Dhammadipa Arama, beliau mengalami percakapan yang selalu diingatnya. Bhante Jotidhammo mengatakan bahwa Dhammadipa Arama ini adalah vihara STI. Vihara STI ini adalah berarti juga vihara Bhante Paññāvaro Thera, karena beliau adalah Sanghanayaka pada masa itu. Dalam benak Bhante Subhapanno, wah luar biasa sekali sosok seorang Sanghanayaka itu. Memimpin sekian banyak vihara STI diseluruh Indonesia. Termasuk tempat seindah Dhammadipa Arama ini. Tak pernah disangka oleh beliau bahwa di masa depan beliaulah nantinya yang kemudian diberi amanah menjadi seorang Sanghanayaka.


Beliau sempat kuliah D-2 di STAB Mpu Tantular, Banyumas. Setelah lulus, beliau pun mulai menapak jejak kesucian dengan mengikuti pabajja samanera 3 bulan di Vihara Tanah Putih Semarang. Ternyata diluar dugaan, 2 tahun kemudian “bablas menjadi bhikkhu”, demikian menurut beliau. Beliau pun mengikuti upasampada di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya pada 19 Juli 1991 dengan uppajhaya Bhante Sukhemo Thera, kammavacariya Bhante Paññāvaro Thera, dan anusavanacariya Bhante Subalaratano Thera. Dari semula motivasi hidupnya sejak masa kanak-kanak adalah mengejar kesaktian, kini misi hidupnya adalah mengejar kesucian dengan terus melatih diri dan berbuat kebajikan.


MAHAVIHĀRA BUDDHAMANGGALA, BALIKPAPAN

Setelah menjadi bhikkhu, beliau bertugas di Jakarta. Beliau melakukan pembinaan umat mulai dari Jakarta, Tangerang, Cilegon, Serang, dan Rangkasbitung. Dan sejak 1993 menjadi Wakil Kepala Vihara Dhammacakka Jaya dan Sekretaris Yayasan Dhammacakka Jaya. Waktu itu jumlah bhikkhu amat sedikit, sehingga tugas yang ditempuh beliau sebagai bhikkhu baru amatlah tidak mudah. Kisah perjuangan beliau mengejar kesucian tidak berhenti disitu. Pada tahun 1996, beliau diberi tugas untuk menjadi Kepala Vihara Muladharma Samarinda. Pada masa itu, akses jalan menuju vihara cukup sulit dan jalan tidak rata sehingga umat enggan ke vihara pada hari-hari biasa diluar kebaktian. Sehingga seringkali dana makan bhikkhu hanya dikirim melalu kurir, praktis Bhante sering makan sendirian tanpa didampingi umat. Bhante juga bertugas melakukan pembinaan ke Balikpapan, Tarakan, Berau, Tanjung Selor, dan Malinau. Paling sering beliau harus bolak-balik Samarinda-Balikpapan karena keduanya memiliki basis umat Buddha terbesar di Kalimantan pada masa itu. Karena akses jalan masuk vihara cukup sulit, umat jarang ada yang menjemput bhante, dan memilih untuk berdana keperluan transportasi sehingga Bhante sering naik taksi. Pada masa itu sopir-sopir taksi Samarinda dan Balikpapan terkenal suka mengemudi dengan kecepatan tinggi karena mengejar setoran. Praktis sering terjadi kecelakaan di sepanjang jalur yang menghubungkan kedua kota tersebut. Bhante pun sempat beberapa kali hampir mengalami kecelakaan. Beliau merasa bisa jadi usianya mungkin “tidak panjang” kalau terus menerus dalam keadaan seperti ini. “Kesaktian” berkat timbunan karma baiklah yang masih menjaga beliau terhindar dari kecelakaan. Bhante pun memiliki ide untuk merintis cetiya atau vihara kecil di Balikpapan. Seukuran ruko pun tidak apalah, pikir beliau, yang penting ada, sehingga tidak perlu sering bolak-balik Samarinda-Balikpapan.


Visi beliau mulai terwujud pada tahun 1997, ketika salah satu umat meminjami sebuah ruko untuk digunakan sebagai cetiya. Hingga tahun 1999 berkat dukungan dana dari umat, luas area berkembang menjadi 2 hektar. Maka sejak tahun 2000, batu pertama diletakkan dan direncanakan pembangunan Vihara Buddhamanggala. Karena belum ada kuti, Bhante tinggal di bedeng (semacam gubug). Dinding bedeng tersebut berongga-rongga memberi celah angin keluar masuk sehingga bila larut malam saat Bhante tidur hawa amat dingin. Ditambah kondisi saat itu di atas bukit tanpa listrik dan saluran air. Bahkan saat kuti jadi pada tahun 2001 Bhante sempat beberapa saat masih memilih tinggal di bedeng tersebut untuk melatih diri.


Dhammasala Manggalabharana



Candi Buddhamanggala yang menjadi sentral kemegahan kompleks Mahavihara Buddhamanggala


Pada tahun 2002, Dhammasala pertama selesai dibangun (kedepannya digunakan sebagai gedung sekolah minggu remaja). Candi Buddhamanggala mulai dibangun sejak 2003 dan selesai tahun 2008 bersama dengan kuti-kuti tamu. Pada tahun 2011, Dhammasala utama Manggalabharana selesai dibangun bersama dengan gedung perpustakaan Dilanjutkan dengan gedung rumah abu (Wisma Vilasa) yang selesai tahun 2016 kemarin. Sedangkan Dhammasekha Mitamanggala masih dalam tahap penyelesaian. Bhante masih ingat ketika Bhante Sombat dari Thailand datang berkunjung pada tahun 2000, beliau melontarkan lelucon bahwa kata Balikpapan artinya papan dibalik. Bhante Sombat menyindir namun sekaligus mengagumi keserhanaan tempat tinggal Bhante Subhapanno yang hanya berupa bedeng. Ketika beliau kembali berkunjung pada tahun lalu, Bhante Sombat berkata : “hah, disulap ?” Ternyata Bhante Subhapanno memang benar-benar “sakti”. Benar apa yang diajarkan Bhante Jotidhammo pada beliau dahulu, sakti belum tentu suci, tapi suci pasti sakti.


Menemukan Kesucian Melalui Pengabdian

Selain kepala Mahavihara Buddhamanggala, beliau saat ini juga sebagai dosen mata kuliah Manajemen Buddhis di STAB Kertarajasa Batu dan dosen pembimbing tugas akhir bagi para mahasiswa/i STAB. Beliau adalah lulusan hukum (S1) Universitas Tridharma Balikpapan (2005) dan manajemen (S2) Universitas Mulawarman Samarinda (2007). Beliau juga Ketua Umum Yayasan Dhammadipa Arama, Malang, periode 2012-sekarang dan sejak 2010-sekarang menjabat sebagai Rektor STAB Kertarajasa.


Demikianlah perjalanan hidup seorang Bhante Subhapanno. Dari semula mengejar kesaktian, akhirnya menemukan kesucian dalam pengabdian beliau sehari-hari sebagai seorang pabbajita dan pendidik. Bagi beliau, kesucian bukan sesuatu yang muluk-muluk untuk dicapai. Pengabdian yang tulus dan penuh cinta kasih akan menghantarkan diri menuju kesucian hidup. Pada tahun 2016, beliau mendapat anugerah Penghargaan Dhamma (Upadhi) dari Srilanka dengan sebutan: Sasana Sobhana Siri Saddhamma Visarada.

Sebagai seorang Sanghanayaka, beliau memiliki visi agar seluruh elemen umat Buddha bisa kompak, tidak saling menyalahkan satu sama lain, serta guyub rukun berkarya dalam Dhamma. Dengan demikian agama Buddha semakin maju dan citra agama Buddha semakin baik di mata umum. Beliau juga senantiasa berharap umat Buddha makin menyelami Dhamma dalam kehidupan sehari-hari, sehingga Sadha (keyakinan) meningkat dan semua berbahagia didalam Dhamma. Semoga kita semua senantiasa mendukung visi beliau dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai umat Buddha. Sadhu 3x....

Pada tahun 2016, beliau mendapat anugerah Penghargaan Dhamma (Upadhi) dari Srilanka dengan sebutan: Sasana Sobhana Siri Saddhamma Visarada


Kegiatan Sangha

Kunjungi pula @medkomsti di sini


Pusdiklat Buddhis Sikkhadama Santibhumi BSD City, Tangerang Selatan, Banten
Sabtu, 16 Sepember 2017



41 Tahun STI 2017



Vihāra Dharma Ratna, Tangerang
Sabtu, 17 Juni 2017



LATIHAN AṬṬHASĪLANĪ II/2017



BSD
Rabu, 14 Juni 2017



Persamuhan Dan Rapim II 2017



Candi Jiwa dan Blandongan, Kec. Batujaya Kab. Karawang - Jawa Barat
Minggu, 21 Mei 2017



PUJABAKTI WAISAK 2017



Candi Jiwa dan Blandongan, Kec. Batujaya Kab. Karawang - Jawa Barat
Minggu, 21 Mei 2017



PUJABAKTI WAISAK



Candi Jiwa dan Blandongan, Kec. Batujaya Kab. Karawang - Jawa Barat
Minggu, 21 Mei 2017



PUJABAKTI WAISAK



Candi Jiwa dan Blandongan, Kec. Batujaya Kab. Karawang - Jawa Barat
Minggu, 21 Mei 2017



PUJABAKTI WAISAK 2017



Baca Pula