Pembekalan Masa Vassa 2570/2026 Pertemuan Keempat, Bhante Mahā Ṭhitasaddho Membahas tentang Pāḷivyākaraṇa (Tata Bahasa Pāḷī)

Jumat, 21 Agustus 2026 — Rangkaian Pembekalan Masa Vassa 2570/2026 berlanjut dengan sesi pembahasan Pāḷivyākaraṇa (Tata Bahasa Pāḷī) yang disampaikan oleh Y.M. Bhikkhu Mahā Ṭhitasaddho. Sesi ini dimoderatori oleh Y.M. Bhikkhu Abhiseno dan diawali dengan Namakkāra Pāṭha yang dipimpin oleh Y.M. Bhikkhu Guttadhammo Mahāthera.

Pembahasan pada pertemuan ini dimulai dengan mengupas ākāravithi, yaitu struktur dasar bahasa yang mencakup pembagian aksara dan fonologi. Dalam Bahasa Pāḷī sendiri, terdapat 41 aksara yang terbagi menjadi 8 aksara vokal (sara) dan 33 aksara konsonan (byañjana). Y.M. Bhikkhu Ṭhitasaddho juga menjelaskan tentang teknik penggabungan aksara dengan aksara lainnya (sandhi), sehingga aksara dasar dapat berubah bentuk menjadi kata kerja, kata benda. atau kata sifat.

Sesi pembekalan kemudian dilanjutnya dengan tanya jawab. Salah satu pertanyaan membahas tentang penggunaan iti yang kerap dijumpai pada akhir sutta maupun paritta. Y.M. Bhikkhu Ṭhitasaddho menjelaskan bahwa iti memiliki beberapa makna bergantung pada konteks kalimat yang mengikutinya. Iti dapat bermakna “demikian” atau “inilah”. Pada bagian akhir suatu teks, iti juga dapat berfungsi sebagai penanda berakhirnya suatu kutipan atau wacana.

Selain itu, juga terdapat diskusi tentang pelafalan vokal pada akhir kata (apakah perlu ada penambahan bunyi ‘k’ atau tidak), serta perbedaan penulisan dalam teks Pāḷī, seperti penggunaan d dan ṭ pada Tirokuṭṭa Sutta. Dalam sesi ini juga turut disinggung terkait batasan antara membaca dan menyanyi ketika membaca Bahasa Pāḷī.

Sebagai penutup, Y.M. Bhikkhu Mahā Ṭhitasaddho menekankan bahwa pemahaman mengenai prinsip-prinsip Bahasa Pāḷī diharapkan dapat membantu umat mendekati ajaran Buddha melalui bahasa yang digunakan dalam Pustaka Suci, sehingga tidak hanya bergantung pada terjemahan yang terkadang dapat menimbulkan perbedaan pemahaman. Pembacaan langsung terhadap Pustaka Suci juga tetap membutuhkan pemahaman dan ketelitian agar tidak terjadi kesalahan dalam membaca maupun menafsirkan.

Berita Lainnya